Sekilas tentang siklus hidup produk

11Mar09

Mengapa siklus hidup produk terjadi? Siklus hidup penting dipahami berkaitan dengan kenyataan bahwa pelanggan membutuhkan proses untuk mengadopsi sebuah ide, value, dan produk. Produk merupakan tampilan hasil atau perwujudan dari artikulasi ide maupun value yang ditawarkan produsen kepada pelanggan. Ide dan value ini merupakan interpretasi produsen dalam menterjemahkan kebutuhan pelanggan. Produsen yang memahami kebutuhan pelanggannya belum tentu mampu mengartikulasikan ide yang inovatif untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Henry Ford pernah menyampaikan bahwa pada masa itu, tidak ada seorang pun yang mengatakan padanya “tolong buatkan saya mobil!”. Jika anda bertanya pada banyak orang saat itu apa yang mereka butuhkan, mungkin mereka akan menjawab, “Saya butuh kereta kuda yang lebih cepat, kuda yang tidak pernah sakit dan tidak sulit merawatnya!”. Mobil merupakan ide yang tepat untuk menjawab permasalahan bahwa kuda kurang stabil, kurang cepat, dan merepotkan. Produsen dituntut mampu mengartikulasikan ide dan value yang tepat dalam menjawab permasalahan pelanggan. Namun, bagaimanapun juga sebuah produk dapat diadopsi pelanggan atau pasar membutuhkan proses. Ketika mobil pertama kali dikenalkan, ia merupakan sesuatu yang asing. Pada mulanya, mungkin banyak orang yang bertanya apakah benda ini layak menggantikan atau lebih baik dari kereta kuda yang saya miliki. Pelanggan kita membutuhkan proses untuk itu. Persoalannya, adalah bagaimana upaya kita dapat mempercepat proses adopsi tersebut, mulai dari produk dirancang, diluncurkan ke pasar, hingga suskses bertahan dan memenangkan persaingan.

Siklus hidup produk umumnya terdiri dari lima tahap utama, yakni product development, product introduction, product growth, product maturity, dan product decline. Tahapan-tahapan ini ada dan dapat diterapkan untuk seluruh produk atau jasa. Tahapan-tahapan ini dapat dibagi ke dalam sejumlah tahapan yang lebih kecil bergantung pada produknya yang sudah harus dipertimbangkan sejak pengenalannya ke pasar. Disamping itui, siklus hidup produk memiliki karakteristik sebagai berikut:
1. Tidak setiap produk melalui semua tahapan. Beberapa produk bahkan ada yang tidak pernah melewati tahap perkenalan. Umumnya produk yang gagal memasuki semua tahapan ini adalah produk-produk yang berkaitan dengan teknologi dan mode (fad) contohnya: produk-produk elektronik (walkman, tape recorder, komputer, dan aksesorinya), komponen-komponen tertentu (transistor, IC, dll), dan perangkat lunak komputer (application programming maupun language programming).
2. Panjang suatu tahap siklus untuk setiap produk sangat bervariasi. Product category memiliki siklus yang paling lama, product form cenderung mengikuti pola siklus hidup standar (kurva s), sedangkan brand memiliki siklus hidup yang paling pendek.
3. Siklus hidup dapat diperpanjang dengan inovasi dan repositioning. Banyak contoh perusahaan yang dapat memperpanjang siklus hidup produknya sehingga penjualannya tidak menurun, bahkan meningkat. Contoh klasik adalah Du Pont yang dapat memperpanjang siklus hidup produknya, nylon. Sebelumnya nylon hanya digunakan untuk parasaut saat Perang Dunia II, namun Du Pont berhasil mengenalkan penggunaan nylon untuk industri pakaian. Di Indonesia, produk lama yang masih dapat bertahan adalah Rinso. Rinso dapat memperpanjang siklus hidupnya dengan melakukan inovasi dan difirensiasi, mengenalkan Rinso Baru, Rinso Ultra, dan Rinso Warna.



No Responses Yet to “Sekilas tentang siklus hidup produk”

  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: