Belajar dari NUMMI

06Mar09

goldgearKala itu tahun 1982, tahun pertama kebijakan ekonomi Presiden Reagan serta konflik perdagangan mulai berkembang antara Amerika Serikat dan Jepang mengenai jumlah mobil impor. Industri Amerika tidak begitu subur. Pabrik General Motor (GM) di Fremont, California sudah sekarat. Saat itu, pabrik tersebut adalah yang terparah jika dinilai dari mutu dan produktivitas: puluhan cacat pada setiap mobil, dengan waktu rata-rata perakitan jauh lebih panjang daripada pabrik GM lain.

Para pimpinan GM sebagaimana pemimpin perusahaan Amerika lainnya pada saat itu adalah penganut setia teori motivasi X (Mc Gregor). Mereka cenderung tidak mempercayai para pekerja. Ada sebuah keyakinan bahwa jika anda memberi para pekerja satu inci mereka akan mengambil satu mil karena mereka sebenarnya tidak mau bekerja. Brian Haun salah seorang supervisor produksi menjelaskan, ”Di cabang itu anda diperlakukan seperti orang idiot. Anda harus datang, memasang bagian-bagian mobil, tutup mulut dan mengerjakan seluruh tugas. Jika anda menghilangkan satu bagian, saya akan berteriak pada anda.” Pabrik pada saat itu dipenuhi teriakan dan makian. Namun ini tidak menyelesaikan masalah.

Para pekerja itu suka memberontak bahkan beringas dan sering berunjuk rasa dalam wadah United Auto Workers. Ada 5.000 keluhan serikat kerja yang belum terselesaikan. Angka bolos kerja 20% sehingga banyak pekerja harus dicari untuk semua giliran kerja. Penyalahgunaan narkoba dan alkohol begitu merajalela sehingga dibutuhkan tim-tim pembersihan khusus guna menyingkirkan botol-botol minuman keras dan perlengkapan narkoba dari tempat parkir pegawai setelah pergantian giliran kerja. GM terancam bangkrut dan pabrik Freemont pun ditutup.

Kemudian Toyota masuk dan melakukan perubahan. Toyota dan GM membentuk kemitraan pada tahun 1983 untuk membuka kembali pabrik tersebut di bawah proyek New United Motor Manufacturing Inc. (NUMMI). Mempertimbangkan situasi politik, kuatnya serikat buruh, dan manajemen risiko, Toyota mempekerjakan kembali 85% para pekerja yang sama.

Di kalangan internal Toyota sendiri terdapat perdebatan karena sebagian enggan menyerahkan metode produksi dan proses mutu Toyota kepada pesaing. Namun, pemimpin Toyota, Eiji Toyoda memandang itu sebagai tantangan sempurna. Ia ingin membuktikan bahwa Sistem Produksi Toyota dapat diterapkan dimana saja dan oleh siapa saja, bahkan oleh orang-orang dari kebudayaan, sikap, dan filosofi yang berbeda

Toyota menyediakan konteks sosial baru untuk bekerja. Mereka mengeluarkan lebih dari $3 juta untuk mengirim 450 pemimpin grup dan tim baru ke Toyota City guna mengikuti pelatihan Sistem Produksi Toyota. Ratusan jabatan kerja pabrik buatan UAW diganti dengan satu jabatan: anggota tim. Hierarki manajemen dirampingkan dari empat belas tingkat menjadi tiga tingkat: manajemen pabrik, pemimpin grup, pemimpin tim.

Para karyawan mulai berpartisipasi dalam pembuatan keputusan tentang pekerjaan mereka. Para pemimpin dan anggota tim mulai melaksanakan pemecahan masalah dalam grup. Ide-ide perbaikan segera diterapkan oleh para anggota tim dan solusi suksesnya dijadikan standar. Semua anggota diperbolehkan menghentikan proses produksi guna memperbaiki suatu problem dengan menarik kawat yang terpasang di seluruh pabrik. Kerja sama dan keyakinan menggantikan pemaksaan dan konflik.

Sejak saat itu perbaikkan mulai terjadi. Cacat menurun dari 12 menjadi 1 per kendaraan. Waktu perakitan berkurang hingga setengah. Tingkat bolos turun menjadi 3%. Kepuasan kerja meningkat. Pada tahun 1988, NUMMI memenangkan piagam penghargaan Pada tahun 1990, Sistem Produksi Toyota dijunjung sebagai standar kelas dunia di bidang operasional manufakturing.

Kita tak hanya belajar dari NUMMI tentang perubahan manajemen, tapi juga tentang bagaimana mengubah pandangan dan mindset kita tentang orang, karyawan, dan cara kerja.



No Responses Yet to “Belajar dari NUMMI”

  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: