Pemimpin besar adalah motivator ulung

05Mar09

Ombak besar bergulung seirama dengan hembusan angin laut menyergap secara bergantian semenanjung pantai tenggara spanyol. Deburnya terdengar begitu keras saat menghantam karang-karang terjal dan mencipratkan buih ke udara. Tak terdengar suara lain, kecuali suara alam pantai dengan berbagai harmoninya. Kesunyian seolah menelan pantai itu selama bertahun-tahun. Tapi, tidak di suatu hari pada tahun 711 M. Kesunyian itu pecah oleh berderaknya serombongan armada tempur yang telah melintasi 13 mil laut untuk menyeberangi selat Andalusia. Armada berkekuatan 7.000 prajurit itu merapat. Sebuah komando menyulut semangatpun keluar dari sang panglima. “Wahai saudara-saudaraku, lautan ada di belakang kalian, musuh ada di depan kalian, ke manakah kalian akan lari? Demi Allah, yang kalian miliki hanyalah kejujuran dan kesabaran. Ketahuilah bahwa di pulau ini kalian lebih terlantar dari pada anak yatim yang ada di lingkungan orang-orang hina. Musuh kalian telah menyambut dengan pasukan dan senjata mereka. Kekuatan mereka sangat besar, sementara kalian tanpa perlindungan selain pedang-pedang kalian, tanpa kekuatan selain dari barang-barang yang kalian rampas dari tangan musuh kalian. Seandainya pada hari-hari ini kalian masih tetap sengsara seperti ini, tanpa adanya perubahan yang berarti, niscaya nama baik kalian akan hilang, rasa gentar yang ada pada hati musuh akan berganti menjadi berani kepada kalian. Oleh karena itu, pertahankanlah jiwa kalian!”

Tanpa keraguan sedikitpun, panglima itu memerintahkan pasukannya untuk membakar kapal-kapal yang telah membawa mereka. Banyak orang mungkin bertanya. Bukankah kapal-kapal itu adalah aset? Bukankah aset perang justru seharusnya dijaga? Tidak! Itulah prinsip sang panglima. Secara dzohir, memang kapal-kapal itu habis terbakar, namun pada hakekatnya perintah ini juga telah membakar habis pilihan untuk menjadi pecundang dan pengecut serta menyisakan dua pilihan, yang keduanya mulia. Menangkan pertempuran atau mati syahid. Di sini lah terbentuk kesamaan visi dan misi antara pemimpin dan bawahan dalam membangun tim yang kompak dan padu. Langkah ini telah membuahkan kemenangan. Sebuah kemenangan yang mengantarkan umat Islam memasuki babak baru, dakwah di bumi Andalusia.

Panglima itu adalah Thariq bin Ziyad, seorang pahlawan muslim pembebas Andalusia yang namanya diabadikan untuk menyebut bukit karang setinggi 450 meter di semenanjung pantai tenggara Spanyol. Jabal Thariq, begitulah orang arab menamai bukit itu. Lidah Eropa menyebutnya Gibraltar.

Thariq, sang pempimpin, menempatkan diri tak hanya sebagai seorang commandor namun juga sebagai motivator. Kemenangan yang diraihnya termasuk historical moment. Betapa tidak, 7.000 prajurit muslim harus berhadapan dengan jumlah personil musuh yang jauh lebih besar, 25.000 prajurit visigoth di bawah perintah Raja Roderick. Sebuah kekuatan perang yang sangat tak berimbang, mengingatkan kita pada fenomena Perang Badar dimana pasukan musuh berjumlah lebih dari tiga kali lipat pasukan muslim.
Pembakaran kapal dilakukan justru untuk membangkitkan motivasi pasukan muslim. Islam hanya mengenal dua pilihan mulia dalam jihad, yang keduanya berbalas pahala besar, yakni menang atau mati syahid. Ketidakberimbangan kekuatan pasukan saat itu berpotensi untuk membuat kecut nyali sebagian pasukan yang dapat meracuni kekuatan tim. Ciutnya nyali dan lemahnya semangat dapat membuat mereka berfikir untuk kembali ke pantai, mengayuh kapal meninggalkan lahan ibadah. Ini harus dicegah! Hangusnya kapal menjadi puing-puing yang teronggok membuat kemungkinan ini ikut hangus musnah. Seperti yang dikatakannya, “Lautan ada di belakang kalian, musuh ada di depan kalian, ke manakah kalian akan lari?” Maju menerobos musuh, beresiko terbunuh. Mundur ke pantai, menerobos ombak laut beresiko sama. Namun, pilihan pertama tentu lebih ksatria dan mendatangkan pahala. Ada syurga di sana. Jika sama resikonya, tak ada alasan sedikitpun untuk memilih yang ke dua. Api ruh jihad secara cepat merembet dan mengobarkan semangat 7.000 prajurit muslim. Dalam gemuruh takbir mereka maju menegakkan kalimat tahlil di bumi Andalusia.

Sembilan ratus tahun kemudian, cara ini ditiru Hernando Cortez – seorang panglima dari negeri yang pernah ditaklukan Thariq bin Ziyad – untuk menaklukan pasukan Aztek. Namun, banyak orang termasuk Sean R. Covey – seorang motivator populer – dalam bukunya “The Sevent Habbits of Highly Effective People” mengenal Cortez sebagai penemu metode membangkitkan motivasi pasukan dengan membakar kapal untuk pertama kalinya.

Apa hikmah kisah di atas? Kepemimpinan ternyata tidak sekedar berfokus untuk memerintah dengan otoritas legal formal namun juga menciptakan suasana yang mampu membangkitkan motivasi bawahan untuk melaksanakan tugas-tugasnya. Belajar dari gaya kepemimpinan Thariq, penciptaan “kondisi yang memotivasi” dilakukan dengan suatu komando atau kebijakan strategis menghilangkan pilihan mundur dengan mengorbankan aset. Karena aset adalah benda atau materi yang dapat hilang dan diperoleh dengan mudah. Manpower jauh lebih berharga dibanding aset materi. Manpower-lah yang justru mengendalikan penggunaan aset materi tersebut. Sebuah aset dapat menjadi pemicu kinerja atau bahkan peredam semangat tergantung dari bagaimana manpower mendayagunakannya. Thariq tak segan-segan membakar kapalnya sebagai harga yang pantas dibayar untuk memperoleh mental prima manpower-nya. Dia mengubur peluang manpower untuk menjadi pecundang. Dia pun berhasil menyatukan cara pandang manpowernya terhadap suatu persoalan. Kesamaan visi dan cara pandang ini lah yang mendorong suatu tim mampu bekerja keras secara sinergis dengan kesadaran tinggi untuk mencapai tujuannya. Hal ini dibutuhkan seorang pemimpin dalam menggerakan tim kerjanya.



No Responses Yet to “Pemimpin besar adalah motivator ulung”

  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: